#KampoongFest: "Its Gud Misteur!"

Teks dan foto oleh : Rio Rahadian 

“Can we join to paint here?” tanya Peter, turis asal Jerman, yang baru saja sampai beberapa menit tapi sudah repot dikelilingi belasan warga cilik. Temannya, Vera, tepat di sisinya sesekali tersenyum, sambil melihat sekeliling lapang Desa Taman Hewan, lokasi Tamansari Fest Jumat (21/9) kemarin.

 

“Of course,” jawab panitia ringkas, Peter juga Vera lantas diajak ke pinggir lapang, mereka diberi cat kuning satu gelas lengkap dengan kuasnya. Usai panitia tadi berbincang pada teman-temannya yang sedang sibuk membuat mural sekeliling lapang, Peter jongkok dan ambil bagian. Meski ada kesulitan bahasa, komunikasi mereka akhirnya tertolong oleh gestur.

Vera berseru dalam bahasa Jerman, giliran Vera yang menggambar. Keduanya asik bergantian mengecat, mengikuti sketsa hasil mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain dari Institut Teknologi Bandung itu di salah satu bidang. Di belakang mereka warga sekitar masih asik memperhatikan keduanya.

Sesekali Peter nampak mengernyitkan dahi, ia lantas mengajak Vera ke bidang lain, lalu yang lain lagi, hingga akhirnya memutuskan menggambar di lahan kosong di sudut. Peter memulai gambarnya dengan sketsa seperti laba-laba. Ia diam sejenak lalu bergumam entah pada siapa, “we need another color”. Saya colek panitia di samping dan bilang turis ini minta cat lain, maka Peter dapat yang biru. Biru ia torehkan pada sketsa kuning, membentuk wajah.


“It’s a..  face?” tanya saya pada Peter yang baru beranjak bangun, kini giliran Vera mencat. “Yes,” jawab Peter mantap. “What face? It’s like a primitive person or something?” saya berondong tanya padanya. Sedikit terkejut ia bilang, “No, I just want something different, it’s unintentional”. “But it’s nice,” kata saya. “Yeah,” respon Peter.

Wajah di tembok itu makin jelas saat tiba-tiba tiga penduduk cilik menghampiri Peter dari samping. “Its gud, Misteur!” katanya dengan logat Sunda yang kental. “Do you think it’s good, really?” tanya Peter. Hening. Mereka bertiga berpandangan lalu tertawa. 

“Hi, what’s your name?” tanya Peter. “My name is Rian,” ujar yang memuji tadi. “So your initial is ‘R’? Okay. And you?” tunjuk Peter pada yang kedua. “My name is Sawun deu Sip,” ujarnya ditutup tawa besar. “Okay you ‘S’. And you?”. Yang ketiga menjawab, “Be”. “’B’? Okay ‘B’, ‘S’ and ‘R’. We’ll write it on it,” katanya sambil menunjuk gambar yang sedang dihias Vera.

Vera pun menulis ‘BSR’ menjadi bandul kalung di leher si wajah. Anak yang mengaku Shaun the Sheep lalu berteriak, “BSR misteur? Basreng atuh,” ujarnya ditutup tawa dua rekannya. Tanpa kata, ketiganya lalu pergi. Vera menambahkan ‘VP’ di bawahnya, mengesahkan identitas mereka. Vera berdiri mendekati Peter, tak lama Rian kembali menghampiri, “Misteur misteur, du yu leup Indonesia?”. Hening. Peter tersenyum dan berkata mantap, “Yes”. Dan anak-anak tadi berlari girang. [] 













Comments

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran

Popular posts from this blog

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"