#KampoongFest: "Tempat Ini Lebih Indah"

Teks dan foto oleh: Rio Rahadian

Sedikit berkeringat dan bingung. Saya celingak celinguk mencari jalan untuk sampai ke Desa Taman Hewan. Untung saja saya melihat gerombolan pemuda dengan koas. Saya yakin mereka menuju tempat yang sama, Tamansari Fest.

Sampai di lapang itu, kita sadar dikepung dua bangunan besar. Adalah Cihampelas Walk dan konstruksi apartemen yang menjadi sampul desa ini, keduanya menyembunyikan lapang sehingga tak terlihat dari jalan Cihampelas.


Lapang itu dikelilingi dinding putih. Dindingnya sedang dihias oleh mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain dari Institut Teknologi Bandung. Di pinggir kerumunan warga yang mengisi lapang, mahasiswa itu membuat mural yang mewakili harapan kota Bandung. Harapan itu beragam, mulai soal air bersih, pohon yang rindang, hingga membuang sampah di tempatnya.

Satu yang menjadi unik adalah mural kedua dari tempat saya masuk. Mural itu bercerita soal kesenjangan si kaya dan si miskin. Digambarkan di situ, warga yang hendak merubuhkan gedung tinggi dengan tambang. Bila sejenak kita pandangi gambar tepat di depannya lalu menengadah ke atas, kita akan melihat Cihampelas Walk dari belakang, bentuk nyata dari gambar tadi. 


Bila turun ke tengah lapang, kita bisa melihat sebuah sarana panjat warna-warni di samping utara lapang. Di sarana panjat itu ada spanduk berisi harapan. Berhiaskan tokoh cepot, kura-kura dan buaya. Spanduk itu terpajang mantap, sedang di belakangnya terlihat konstruksi apartemen besar. Satu kontradiksi lainnya.


Dua bangunan raksasa itu memang indah. Cihampelas Walk menyediakan area jalan yang teduh, dengan berbagai tempat makan memenuhi kanan dan kiri langkah kita. Sedangkan apartemen itu, bila jadi nanti, sekiranya memiliki fasilitas serupa.

Berbeda dengan dua bangunan yang menjulang, desa tempat saya berdiri biasa saja. Ya, jangan bayangkan lapang futsal mewah tengah kota, lapang ini biasa saja, alasnya semen dengan cat yang hampir pudar. Untuk sampai ke situ pun, kita perlu jalan lurus lima menit dari Kebun Binatang Bandung, jalannya tak cukup lebar dilewati mobil. Mendekati lapang, kita bahkan perlu lewat gang yang tak cukup dilewati motor.

Namun sepanjang gang itulah kita bertemu dengan warga lokal. Ada ibu yang menggendong anaknya, anak-anak berlarian girang, pemuda yang main gitar, ibu muda yang menyusui, semuanya tersenyum bila kita tak sengaja berpapasan muka.

Senyum itu, juga basa-basi merekalah, yang membuat saya merasa diterima. Suara "kakak, kakak, gendong..." dari warga cilik pada mahasiswa yang terdengar di sana-sini lah, yang membuat suasana lebih apa adanya. Pasti itu pula yang membuat Sarita, vokalis Teman Sebangku, di sela-sela penampilannya malam itu berkata lirih. “Tempat ini,” kata Sarita, “lebih indah dari gedung-gedung di belakang.” Tepuk tangan riuh menyambut kalimat itu. []

Comments

Popular posts from this blog

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM