Saya Lapar
Tapi Malu Ada Teman Mamah

Setelah di kampus seharian dan lupa makan siang, saat ini saya sangat lapar. Sayang sekali di dapur sedang ada teman ibu saya berbincang soal keluarganya. Apa yang bisa saya lakukan? Bisakah saya modal nekad dan mengambil nasi juga lauknya di depan mereka? Budaya lokal saya menjawab: TIDAK.



Dalam skala Geert Hofstede, negara kita Indonesia adalah negara dengan jarak kekuasaan yang tinggi [*]. Artinya ada hierarki yang tegas antara atasan dan bawahan, dalam kasus ini, orang tua dan anak. "Jadi," ringkas Gudykunst "penguasa menganggap bawahannya berbeda dari dirinya dan sebaliknya (dalam Samovar, 2010). Itulah yang membuat saya, dan sebagian kita, sungkan makan bila ada teman orang tua. Apalagi bila mereka berbincang di meja makan.

Di sisi lain, di negara Belanda atau Austria yang egaliter misalnya [*], anak tak perlu sungkan untuk makan meski ada teman orangtuanya [1]. Saya ingin mengutip ilustrasi Deddy Mulyana saat ia menjelaskan 'mistifikasi orang besar' dalam bukunya. Dia mencontohkan, "dalam kuliah, mahasiswa tidak berteriak bahwa ritzleting celana dosen pria atau kancing atas blouse wanitanya tampak terbuka"

Jadi, haruskah saya memaksa makan dengan konsekuensi dibilang tak sopan? Ataukah saya lebih baik mati kelaparan sebagai orang yang sopan? Atau, dan saya kira ini yang terbaik, terbang ke Belanda dan makan di sana. Hmm.. makan bareng noni Belanda mungkin enak juga. []


Referensi:
  • Mulyana, Deddy. 2010. Komunikasi Lintas Budaya. Bandung: Rosda
  • Samovar, Larry A. 2010. Komunikasi Lintas Budaya. Jakarta: Salemba Humanika
 ______________________________________

[*]  Geert Hofstede melakukan pemetaan pengaruh kekuasaan tinggi/rendah atas 53 negara. Semakin tinggi nilainya semakin egaliter dan sebaliknya semakin rendah semakin hierarkis. Diurutkan dari yang paling ketat. Bila ada dua angka, berarti bertukaran dengan negara lain. (Dikutip dari Samovar, 2010)
  • (1) Malaysia (negara paling hierarkis)
  • (8/9) Indonesia (bertukaran dengan Ekuador)
  • (10/11) India (bertukaran dengan Afrika Barat)
  • (34) Italia
  • (40) Belanda
  • (53) Austria (negara paling egaliter) 

[1] Hal ini tentu dengan mengesampingkan kebiasaan makan orang Belanda dan Austria
 

Comments

  1. kalo di daerah sini mah biasa aja kalo soal yang itu..
    malu bertanya, lapar terus - terusan.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, iya nih, emg kamu di daerah mana? :D

      Delete
  2. saya jadi inget waktu menahan pipis di celana, karena di balik pintu bapak saya sedang asyik ngobrol dengan temannya. Waktu itu saya selalu teringat doktrin, "Diam di sini jangan kemana-mana, ya?" kata bapak waktu itu sedangkan utk ke kamar mandi sy hrs melewati mereka yg sedang asyik ngobrol, sy 'menderita' saat itu :P *sekitar th. 1982-an

    ReplyDelete
  3. la kok berbincang2nya di dapur mas, udah sagat akrab kali ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya memang sahabat mamah sejak dulu :))
      Kalo mba pernah merasakan hal serupa?

      Delete
  4. memang saya setuju bila ada perasaan seperti itu, tapi saya sih suka berstrategi gimana caranya bisa makan / lewat tanpa harus melanggar "aturan"... bisa saja anda sungkemin teman ibu anda terlebih dahulu, anda ajak teman ibu anda makan, daripada anda kelaparan aheheah

    saya punya prinsip "biarlah malu sebentar, daripada ada derita di antara kita" haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. kan saya mah terlalu mementingkan citra yud :p

      Delete
  5. mending manggil si mamah buat ngambilin nasi wkwkw

    ReplyDelete

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran