Buku Tamu Kawinan
  -Tinjauan Antropologis

Singkat cerita Minggu lalu saya jadi pager bagus di kawinan kakak saya. Selama menjaga buku tamu di depan, saya menemukan satu hal unik yang bisa dibahas. Lihat dulu gambar buku tamu yang saya ambil di lokasi berikut ini.

Daftar hadir tamu di kawinan kakak saya.
 
Pernahkah kamu memperhatikan buku tamu itu? Tepatnya, pernahkah kamu memperhatikan bagaimana para tamu itu menuliskan namanya? Dari gambar di atas, bisa kita lihat 6 dari 9 orang menuliskan identitas keluarganya, bukan sekedar namanya. Hal ini menunjukkan pentingnya konsep keluarga dalam budaya kita.

Pentingnya keluarga itu ada pula pada sesi foto keluarga. Biasanya pemandu acara akan memanggil satu per satu keluarga dari masing-masing pihak. Sesi dibagi-bagi menjadi keluarga besar, dua keluarga besar, keluarga kecil, dan dua keluarga kecil. Rumit memang.

Di awal prosesi, pentingnya keluarga juga muncul di penerimaan tamu. Dalam budaya saya Sunda, mempelai pria akan didampingi ayah ibunya saat masuk ruangan ijab qabul. Orang yang menerimanya barang tentu ayah dan ibu mempelai wanita. Di sini terlihat sekali kehadiran ayah dan ibu jadi begitu penting.

Penjelasan
Indonesia adalah masyarakat kolektivis[*], itulah mengapa ketiga hal di atas terjadi di acara kawinan kita. Masyarakat kolektivis adalah lebih mengutamakan makna kelompok dari pada makna individu. Kolektivisme ini berkaitan erat dengan keluarga.

Peneliti S.D. Smith dalam “Global Families” (sebagaimana dikutip dalam Samovar, 2010) menyebutkan:
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa “ketergantungan dalam keluarga lebih kuat dalam masyarakat yang kolektif” dibandingkan dengan yang individualis.
Tiga hal tadi takkan terjadi di Amerika Serikat, Kanada, Australia, negara-negara Skandinavia dan Eropa Barat yang semuanya individualis. Di sana, keluarga takkan banyak berperan karena individu akan dilihat sebagai individu, tanpa embel-embel keluarga besar. []

Referensi:
  • Samovar, Larry A. 2010. Komunikasi Lintas Budaya. Jakarta: Salemba Humanika
 ______________________________________

[*]  Geert Hofstede melakukan pemetaan skala Individualis-Kolektivis atas 53 negara. Semakin tinggi nilainya semakin kolektivis dan sebaliknya semakin rendah semakin individualis. Diurutkan dari yang paling individualis. Bila ada dua angka, berarti bertukaran dengan negara lain. (Dikutip dari Samovar, 2010)
  • (1) Amerika Serikat (negara paling individualis)
  • (4/5) Kanada (bertukaran dengan Belanda)
  • (47/48) Indonesia (bertukaran dengan Pakistan) 
Adik saya (kiri) dan Yudha Maulana (kanan), sejenak sebelum menerima tamu

Comments

  1. lha, itu adegan di film tutur tinular versi batman di indosiar ya.. ? wkwkw.. :D

    mungkin simplenya seperti ini kalo secara pribadi dari saya : kalo nulis satu - satu orang yang dateng ke acaranya, mungkin pestanya bubar duluan sebelum tamunya selesai nulis nama.. kan yang dateng juga tidak hanya satu orang, mungkin 3 orang, atau mungkin rombongan mobil pick-up.. :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran

Popular posts from this blog

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"