Mejikuhibiniu Jadi Merah Putih

*Juara1 lomba essay dalam HUT ke-18 Pers Mahasiswa Jumpa Universitas Pasundan,Bandung



Orang Indonesia tahu mereka bhinneka, tapi menolak bertunggal ika. Lihat saja kekerasan atas nama beda yang muncul di mana-mana. Perbedaan kini telah jadi alasan untuk melakukan kekerasan. Membuat kebhinnekaan Indonesia makin keruh saja. 

Bisa jadi mereka lupa dengan semboyan bangsa. Padahal sudah dipajang di ruang-ruang kelas, dicetak di buku-buku pelajaran, dan dibacakan setiap upacara bendera. Bahwa pendiri bangsa ini, 68 tahun yang lalu, sudah tahu bahwa Indonesia takkan akur. Tapi Soekarno pasti menolak bangga meski ramalannya terbukti benar. 

Kini, Pancasila sebatas dekorasi berbentuk garuda. Bhinneka tunggal ika pun sebatas tulisan yang dihapal tanpa makna. Keduanya kini tak lagi mampu berbuat apa-apa. Masyarakat pun makin alergi dengan orang yang berlainan. Bila ini dibiarkan, Indonesia yang bubar jalan tinggal ditunggu tanggal mainnya.

Rapor Merah Kebhinnekaan 

Ultimate in Diversity” (hebat dalam keragaman) adalah slogan pariwisata Indonesia. Bahwa negeri ini punya ribuan budaya, dan pemerintah sadar betul potensi pariwisata dari warna-warni itu. Namun di sisi lain, konflik lintas-budaya dibiarkan ada,  melaten, terkesan dipelihara.

Sebut saja kasus GKI Yasmin Bogor dan HKBP Filadelfia Bekasi. Keleluasaan mereka dalam beribadah tertunda lantaran izin gerejanya dibekukan pemerintah kota masing-masing. Dalam kedua kasus ini, pemerintah manggut saja pada tekanan mayoritas. Maka, soal mengurus keragaman, pemerintah telah bermuka dua.

Bukan pemerintah saja yang melukai semboyan negara, masyarakat pun ikut serta. Data The Wahid Insitute menyebutkan, tahun 2012 saja, ada 51 pelanggar kebebasan beragama dari kelompok masyarakat. Mereka saling menyumbang angka mencapai 197 kasus kekerasan. Posisi pertama dipegang oleh sebuah ormas berlabel agama[1]

Publik sendiri telah melihat bagaimana kelompok-kelompok ini menghadapi perbedaan. Ada yang mempertontonkan ketidaksetujuan dengan parang. Ada yang tanpa merasa bersalah merasa berhak melempari orang. Mereka tak hanya melukai orang, tapi sekaligus juga cita-cita bangsa.

Hal ini menjadi masuk akal bila kita melihat data toleransi di Indonesia. Survei dari Center of Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan toleransi beragama orang Indonesia tergolong rendah. Dalam survei ini, ada 59,5 persen responden tidak berkeberatan bertetangga dengan orang beragama lain. Sekitar 33,7 persen lainnya menjawab sebaliknya[2]. Rupanya bibit perpecahan itu tidaklah jauh, tapi sejak di depan rumah kita.

Rapor merah ini tak hanya dari The Wahid Institute dan CSIS saja. Masih ada laporan dari CRCS Universitas Gadjah Mada, Amnesty International dan Human Right Watch[3]. Nilainya merah semua, Indonesia gagal naik kelas. Maka masihkah dunia percaya bahwa Indonesia hebat dalam keragaman itu, ketika masyarakatnya alergi beda?

“Indonesia adalah Kesepakatan”

Sengaja saya pinjam kata-kata itu dari Alissa Wahid, puteri Gus Dur. Sebab Indonesia bukanlah suku, melainkan semua suku. Indonesia bukanlah pulau, tapi gugusan pulau. Tak ada satu pun daerah yang berhak mengaku sebagai Indonesia, selain dengan menggandeng daerah lainnya.

Nama “Indonesia” sendiri sebelumnya tak ada sampai semua orang sepakat pada 28 Oktober 1928. Semua pemuda dari berbagai budaya setuju jadi satu nama. Sebab semuanya terlalu berbeda, mereka sampai perlu membentuk identitas baru yang namanya Indonesia. Sejak lahirnya, Indonesia memang ada karena perbedaan.

Dari sini pula terlihat bahwa pendiri bangsa kita telah selangkah di depan. Visi dan harapan mereka sudah disampaikan dengan meminjam kalimat Empu Tantular. Lewat berbeda tapi satu jua, pendiri bangsa berpesan bahwa perbedaan bukan untuk diperkelahikan. Perbedaan justru perlu disediakan ruang, dipahami, lalu dirayakan. Perbedaan adalah sebuah kekayaan yang berhak dibanggakan.

Barangkali para pelaku kekerasan lupa akan kesepakatan itu. Mungkin juga mereka lebih senang bila Indonesia dibubarkan saja. Mungkin mereka tak keberatan bila Jawa Barat dan Jawa Tengah saja jadi dua negara yang berbeda. Mungkin mereka lebih senang mengurus visa hanya untuk ke Bali. Kenapa mereka mau begitu repot?

Mejikuhibiniu Jadi Merah Putih

Pelangi takkan indah bila hanya satu warna. Dari pada repot menyeragamkan, lebih baik duduk sejenak sambil menikmati kekayaan ini. Toh generasi Indonesia sebelum kita sepakat jadi satu. Maka alergi beda ini perlu diobati sekarang juga. Jangan sampai Indonesia keburu kritis dan akhirnya mati. 

Di sinilah mahasiswa punya kesempatan mengubah situasi. Sebagai yang nantinya mengurus Indonesia, mahasiswa perlu membiasakan diri terhadap perbedaan. Tak perlu ikut seminar hak azasi, bukan melulu yang seperti itu. Karena bila toleransi berangkat dari pengalaman, maka untuk jadi toleran kita tinggal berani berinteraksi dengan orang berlainan.

Sebuah interkasi akan menyadarkan kita yang selama ini terbiasa oleh stigma. Saatnya sikap curiga soal suku X atau agama Y dicek kebenarannya. Tak usah jauh-jauh, mulailah di kampus sendiri, persis di depan kelasmu. Pada akhirnya, stigma akan dibongkar habis dan semua akan selesai dengan kesalahpahaman. Lewat sebuah perbincangan, perbedaan tumbuh dalam kepelangian.

Jadi, mari kembali pada obrolan di awal, merujuk pada kontrak pendiri bangsa. Saatnya selesai dengan saling aku, saatnya bicara kita. Bahwa betapapun bedanya warna kita, yakni me-ji-ku-hi-bi-ni-u, toh benderanya merah putih juga. Soalnya saya ngeri membayangkan bila Indonesia gagal mengurus keragaman. Bubar jadi negara-negara kecil di nusantara. Harus terhapus dari peta dunia.***


[1] Laporan Akhir Tahun Kebebasan Beragama dan Intoleransi 2012, dari The Wahid Institute
[2] Dikutip dari  http://www.tempo.co/read/news/2012/06/05/173408521/Survei-Toleransi-Beragama-Orang-Indonesia-Rendah
[3] Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia 2012, dari Center for Religious and Cross-Cultural Studies, UGM

Sumber data  :

  • Laporan Akhir Tahun Kebebasan Beragama dan Intoleransi 2012, dari The Wahid Institute. Diunduh dari www.wahidinstitute.org 
  • Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia 2012, dari Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Univeristas Gadjah Mada. Diunduh dari www.crcs.ugm.ac.id   
 

 

Comments

Popular Posts