Bulan Pesta Berkedok Agama


Saya baru menghadiri acara buka bersama sebuah partai politik yang mengundang warga lokal. Sepuluh menit sebelum magrib, banyak tamu yang sudah mengambil takjil meski panitia sudah berulang kali mengatakan jangan. Tapi satu tamu berceloteh. “Nanti nggak kebagian,” ujarnya sambil mengambil es buah lalu kabur.

Yang terjadi usai adzan lebih menyebalkan. Para tamu mengantre dari satu stand makanan ke stand makanan lain. Dari bakso ke soto. Dari gorengan ke ramen (ya, panitia menyediakan ramen). Lalu mereka membawa 2-4 piring sajian ke hadapan mereka. Makan lahap. Sebagian malah tidak habis.

Saya bukan anti makan mewah. Toh saya juga suka curi-curi waktu untuk makan di tempat berkelas. Tapi saya gemas melihat orang yang melakukan hal ini dengan dalih baru berpuasa, sebagai imbalan menjalankan tugas agama.

Bukankah puasa mengajarkan kita menghapus ego dan hasrat? Ketika kita mengambil makanan sebelum bisa dibagikan, termasuk alasan takut tidak kebagian, bukankah itu ego? Ketika kita mengambil 2-3 sajian berbeda---setelah sebelumnya meneguk takjil dua porsi pula---bukankah itu hasrat? 

Saya takut kita telah gagal melawan hawa nafsu. Kita, ternyata, hanya menunda saja. Malah, kalau dilihat lagi, nafsu makan kita jadi dua kali lipat lebih ganas ketimbang hari biasa. Yang biasanya tidak ada jadi ada. 

Kita merasa boleh makan lebih banyak dari porsi biasanya, lebih mahal dari biasanya, lebih enak dari biasanya, sebagai kompensasi rasa tersiksanya kita menahan lapar dan dahaga. 

Acara berbuka yang tak lebih dari sekadar pesta. Kita hanya pura-pura lupa. Tapi diam-diam berdoa semoga semuanya disahkan oleh Yang Maha Kuasa.

Puasa harusnya menstabilkan gula darah, tapi kok kadar gula dan lemak malah naik kayak harga sembako? Puasa harusnya membuat kita merasakan penderitaan warga ekonomi lemah. Iya tapi waktu siang saja, sehabis magrib sih bisa kembali makan sepuasnya---apalagi kita manja pilih-pilih tempat berbuka. Cek juga: jumlah agenda buka bersama di kalender kita. Penghematan? Lupakan.

Puasa harusnya menempa kita lebih rendah hati. Tapi kok, segala bentuk ibadah dan bakti sosial kita sebarkan di linimasa. Ditambah bumbu-bumbu ucapan syukur biar kelihatannya lebih syahdu padahal riya. Toh kita juga tahu Tuhan bisa mendengar syukur kita tanpa harus menyapanya di dunia maya.

Pada akhirnya, manfaat puasa itu tidak ada. Kita akan kembali jadi diri kita yang angkuh seperti 11 bulan lainnya. Untuk kemudian berpura-pura bahagia menyambut Ramadhan demi sebulan pesta berkedok agama di tahun berikutnya.***

Gambar milik bestdesignoptions.com

Comments

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran

Popular posts from this blog

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM