Kita Sudah Punya Pancasila


Oleh Rio Rahadian Tuasikal

Mungkin kita lupa bahwa Indonesia dibangun di atas perbedaan. Saat bangsa ini hendak merdeka, telah ada beragam suku, bahasa dan agama di Nusantara. Karena kita terlalu berbeda, kita sampai perlu membentuk identitas baru yang namanya Indonesia. Melihat perbedaan itu, para pendiri bangsa melihat potensi konflik pula. Maka mereka mewariskan Pancasila sebagai jalan tengah.

Dewasa ini isu toleransi jadi ramai diperbincangkan. Di banyak belahan dunia, berbagai upaya dialog keragaman sudah dilangsungkan. Perdamaian digaungkan, kampanye dilakukan. Melihat keramaian di kancah internasional, Indonesia merasa perlu turut serta juga. Akhirnya Indonesia sibuk mengadopsi nilai-nilai orang lain. Padahal sejak awal Indonesia sudah punya Pancasila tadi.

Beda dengan semangat perdamaian, semangat berpancasila kini malah terlelap. Pancasila kini sebatas pajangan di dinding kelas. Bagaimana tidak? Kekerasan atas nama perbedaan marak terjadi di seantero negeri. Survey The Wahid Institute November 2012 menyebutkan, ada 193 kasus pelanggaran atas kebebasan beragama. Pelanggaran ini dilakukan dengan bentuk-bentuk kekerasan, pemaksaan, dan pelarangan.

Sebetulnya, dua belas tahun adalah waktu yang cukup bagi pendidikan Pancasila. Dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Puluhan bab telah dibaca, belasan ujian telah ditempuh. Ratusan kali sudah kita dengar teks Pancasila dikumandangkan di upacara sekolah, kecamatan, juga istana presiden. Namun semangatnya lenyap entah ke mana.

Seringkali tidak kita sadari bahwa pendidikan Pancasila kini bagai menara gading. Ide-ide cemerlangnya seperti sibuk sendiri. Hal ini karena selama ini, kurikulum kita berfokus pada cinta Indonesia. Tentang cinta bangsa, etika moral juga Keindonesiaan. Dilanjutkan dengan UUD, kewajiban dan hak sampai tata negara. Pancasila diurai jadi condong ke ilmu pemerintahan.

Selain itu, beberapa guru masih bermain di taraf abstrak. Bahwa kita harus mencintai negara Indonesia, bahwa Indonesia haruslah bersatu, bahwa NKRI adalah harga mati. Sebagian guru fokus pada apakah muridnya hapal teks Pancasila atau tidak. Tapi dia membiarkan muridnya yang mengejek teman dari luar daerah. Yang berbeda logat, warna kulit, bentuk mata atau agama. Di titik ini esensi pendidikan Pancasila telah keluar jalur.

Tanpa terasa, ejekan-ejekan di ruang kelas, atau depan rumah adalah bibit perpecahan itu. Paling ujungnya hanya tangis karena malu. Kita merasa ini wajar di kalangan anak-anak. Padahal ini perlu ditangani dengan cepat. Karena bila didiamkan, sentimen-sentimen tadi bisa berubah bentuk jadi kekerasan saat dewasa. Bila tidak disembuhkan, cuma masalah waktu sampai jadi tawuran pelajar bahkan ketegangan etnis.

Kemampuan meramal para pendiri Indonesia memang jitu. Pancasila terbukti cocok jadi bekal yang perlu dibawa bila mau hidup damai di Indonesia. Toh sudah ada di poin ke tiga Persatuan Indonesia. Selain itu, poin kedua Kemanusiaan juga menekankan adanya kesetaraan. Maka sekarang Pancasila perlu memposisikan dirinya secara baru. Saatnya Pancasila bicara soal toleransi dan keragaman. 

Pendidikan Pancasila baru tak perlu repot. Sebetulnya, kisah-kisah keragaman yang banyak di buku PKN untuk SD sudah tepat. Tinggal bagaimana guru secara kreatif mengajak murid melakukannya tidak hanya di ruang kelas. Tinggal menunjukkan bahwa empati perlu dipakai di tengah perbedaan. Maka murid akan mengerti bahwa toleransi bisa dilakukan di depan rumah masing-masing.

Bila ini cepat dilakukan, perdamaian tingkat nasional sudah di depan mata. Saatnya Pancasila kembali bangun dari tidur nyenyak. Kembali hadir di tiap jengkal pergaulan masyarakat. Maka sambutlah Pancasila dengan semangat baru. Yakni Pancasila yang tak hanya jadi hiasan di dinding kelas. Tapi turut menghiasi perkataan dan perilaku setiap warga Indonesia. []

Penulis, mahasiswa Jurnalistik Unikom

Comments

  1. I agree with it, Brother. But one day I need to discuss with you. I little bit disagree with the term "pluralism". I prefer to say "plurality". Maybe I've discussed it a bit in my blog. But I am sure we can open our mind, Brother.
    :'D

    Let's promote peace of diversity and brotherhood more and more. Best luck for us..

    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. I've read your article about plurality, and yes, they have a little differences.. I can't wait to discuss with you :D

      thanks for visiting me :)

      Delete

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran

Popular posts from this blog

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"