Budaya, Agama
dan Budaya Agama

Dua minggu lalu saya iseng menulis Kita Dijajah Kurma. Di luar ekspektasi, tulisan itu menimbulkan pro dan kontra. Saya sebenarnya asik asik saja, tapi melihatnya saya jadi sadar, masih banyak orang yang rabun memisahkan agama dan budaya. Betul, tulisan ini akan membahas hubungan itu. 


Agama dan budaya lahir hampir bersamaan. Budaya lahir ketika sekelompok manusia hidup bersama dan mulai mengembangkan unsur-unsur budayanya, misalnya sistem teknologi atau bahasa. Sedangkan agama lahir ketika kelompok manusia itu memahami ada kekuatan tidak nampak di lingkungan sekitarnya.

Agama Membentuk Budaya
Menurut Koentjaraningrat, setiap budaya di dunia pasti punya tujuh unsur, salah satunya sistem kepercayaan atau agama. Samovar (2010) bahkan menyebutkan agama sebagai struktur-dalam dari satu budaya. Sebagai kumpulan nilai yang lengkap, ajaran agama telah mengisi sendi-sendi peraturan di budaya masyarakatnya. Sehingga pada titik ini, jelas agama telah mempengaruhi budaya.

Contohnya, bagi Malaysia yang mayoritas Muslim, alkohol adalah dilarang, maka tak ada budaya pesta minum. Sedangkan bagi Cina, di mana agamanya tidak mengatur alkohol, pesta minum adalah kebiasaan.

Hal ini disebut juga oleh Smart bahwa “Budaya Barat diikat oleh ajaran Katholik dan Protestan; oleh ajaran Buddha pada peradaban Srilanka; oleh aliran humanisme pada budaya Barat Modern, oleh Islam di Timur Tengah; oleh aliran Ortodoks di Rusia, ajaran Hindu di India, dan lain sebagainya”[1]

Senada, Coogan juga bilang bahwa “Tradisi agama besar dunia telah mencerminkan dan membentuk nilai yang tidak dpaat dipisahkan dari masyarakat” [2]

Agama dan Budaya Identik[*]
Sebagai kumpulan nilai-nilai abstrak, agama kerap menempel pada budaya di mana ia dilahirkan. Misalnya Islam pada budaya Timur Tengah, Katholik dan Protestan pada budaya Eropa dan Konghucu pada budaya Cina. Hal ini membuat agama dan budaya jadi identik dan sulit dibedakan.

Carol R Ember (1997) bilang, ‘It is often difficult to seperate the religious (or economic or political) from other aspects of culture ... However, it is sometimes difficult even for us to agree wether a particular custom of ours is religious or not’ (Seringnya sulit untuk memisahkan religi (atau ekonomi atau politik) dari aspek-aspek lain budaya ... Bagaimana pun kadang sulit bagi kita untuk setuju mana kebiasaan kita yang relijius atau bukan) [3]

Kondisi ini kadang membingungkan umat beragama. Adakalanya beberapa kelompok salah kaprah mengikuti satu agama, padahal mengikuti budayanya. Misalnya Muslim yang memakai cadar atau surban yang merupakan produk budaya Arab, bukan Islam. Bagi Muslim Indonesia, setiap Ramadan mereka mengalami Penjajahan Budaya dari Arab.

Budaya Agama
Dalam penyebaran agama dari tanah asalnya, agama akan melebur dengan kondisi masyarakat setempat. Hal itu menyebabkan adanya akulturasi antara satu agama dengan budaya setempat. Percampuran itu membentuk satu kebiasaan yang dipengaruhi agama, yang disebut budaya agama.

Misalnya kebiasaan slametan dalam budaya Jawa yang mendapat pengaruh Islam. Slametan dilakukan manakala seorang anak baru lahir, mereka yang hadir akan membaca kitab suci dan berdoa. Padahal, hal demikian tidak diajarkan dalam Quran maupun dicontohkan Muhammad. Meminjam istilah senior saya Demaz FH, ini adalah Islam budaya, bukan budaya Islam.

Ada pula budaya yang mendapat pengaruh Kristen. Misalnya tradisi berbagi kado saat perayaan natal, atau menghias telur saat paskah, keduanya adalah Kristen budaya. Keduanya tidak diajarkan Alkitab maupun dicontohkan Yesus.

Munculnya budaya agama ini kerap tidak disadari oleh pemeluk agama. Beberapa di antaranya malah bertentangan dengan ajaran agama tersebut. Misalkan perayaan natal bagi umat Kristen yang malah diisi pesta dan mencederai nilai kesederhanaan yang disampaikan Yesus. Ada pula budaya berbuka puasa bagi Muslim yang kadang bertentangan dengan nilai kesederhanaan yang diusung Islam.

Simpulan
Tentu kita perlu arif dalam memilah yang mana agama dan mana budaya. Hal itu penting agar umat beragama dapat beragama secara murni, tanpa perlu dijajah budaya lain. Kita bisa menjadi Muslim tanpa menjadi Arab, kita bisa menjadi Kristen tanpa jadi Eropa. Tunjukkan bahwa kita umat beragama dari Indonesia.

Frasa kunci :
  • Tata nilai lengkap
  • Agama mengisi sendi
  • Agama menempel
Referensi:
  • Samovar, Larry A. 2010. Komunikasi Lintas Budaya. Jakarta: Salemba Humanika 
  • Ember, Carol R dan Melvin Ember. 1977. Cultural Anthropology. New Jersey: Prentice-Hall 
______________________________________
[*] Oh ya, saya menemukan situs bagus untuk memperdalam ini. Kunjungi saja www.cultureandreligion.com

Comments

Popular posts from this blog

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM