Kenapa Kita Suka Mudik?
  -Tinjauan Antropologis

Saat ini sudah menjelang Lebaran, maka tak aneh bila orang-orang sudah bersiap mudik. Media pun mulai ramai memberitakannya, ada yang berdesakan membeli tiket, ada yang menginap di terminal dan sebagainya. Mungkin juga Anda sendiri membaca ini manakala di perjalanan menuju kampung halaman. Sebenarnya apa yang membuat masyarakat kita begitu gemar mudik? Yap, tulisan ini akan menjawabnya.

Mudik (sumber: goblog-goblogging.blogspot.com)
Penduduk Indonesia banyak terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung[1]. Beberapa bukan penduduk asli melainkan pendatang[2]. Hal ini bisa dilihat dari menjamurnya restoran berbagai budaya---seperti RM Padang, Warung Tegal dan Gudeg Yogya---di kedua kota itu. Budaya merantau memang dikenal Indonesia secara tradisional[3].

Indonesia adalah masyarakat kolektivis[*], itulah mengapa budaya mudik ini jadi tradisi. Masyarakat kolektivis adalah lebih mengutamakan makna kelompok dari pada makna individu. Kolektivisme ini berkaitan erat dengan keluarga.

Peneliti S.D. Smith dalam “Global Families” (sebagaimana dikutip dalam Samovar, 2010) menyebutkan:
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa “ketergantungan dalam keluarga lebih kuat dalam masyarakat yang kolektif” dibandingkan dengan yang individualis.
Bagaimana kuatnya hubungan kolektivisme dan keluarga terlihat dari orang yang dapat penghargaan bergengsi. Orang  Indonesia akan berterimakasih pada keluarga sedangkan orang Amerika berterimakasih pada kolega.

Menurut penjelasan itu, jelas mudik berkaitan erat dengan kolektivisme. Masyarakat kolektivis memang potensial untuk kembali pada keluarganya. Namun demikian, yang membuat mudik jadi tradisi besar adalah karena balik kampung itu dilakukan secara bersamaan.

Apa yang membuatnya berbarengan? Ada satu poin yakni hari besar. Hari besar itu bisa relijius seperti Idul Fitri dan Imlek, atau bisa sekular seperti Thanksgiving. Hari besar itulah yang membuat mudik jadi hal besar.

Mudik di negara lain
Jika budaya mudik adalah karena budaya kolektivis, maka negara kolektivis lain akan punya budaya serupa mudik. Yap betul, budaya mudik ini memang bukan milik Indonesia saja. Negara Asia seperti Pakistan, India, Jepang dan Cina[*] punya tradisi serupa. Di Pakistan mudik juga terjadi saat Idul Fitri, di India ini terjadi menjelang Festival Cahaya, di Jepang menjelang Festival Obon dan di Cina selama 40 hari perayaan Imlek. Salah satu sumber bahkan menyebutkan bahwa pemudik Cina mencapai 700 juta orang, kota besar seperti Beijing akan sepi selayaknya Jakarta saat Lebaran.

Hal menarik bahwa negara individualis seperti Amerika Serikat dan Kanada[*] pun memiliki tradisi serupa. Mereka berkumpul dengan keluarga---dan memanggang kalkun untuk makan besar---pada Thanksgiving tiap tahunnya. Bahkan kebiasaan kumpul ini lebih ramai dibandingkan kumpul saat Natal[4].

Lantas kenapa tradisi mudik bisa terjadi di kedua negara ini? Menurut Larry A. Samovar (2010), hal itu berkaitan dengan sejarah. Konsep ‘keluarga inti’ telah dikenal dalam budaya Amerika sejak era kolonial Amerika (orang Inggris masuk ke Benua Amerika) dan melalui Revolusi Industri. Menurutnya hal itu tidak banyak berubah selama 250 tahun[5]. Menurut saya, sejarah yang serupa terjadi bagi Kanada (saat orang Prancis masuk ke benua Amerika).

Satu hal unik lainnya yakni negara kolektivis Meksiko[*] tidak memiliki tradisi mudik. Kenapa? Hal ini karena satuan keluarga dalam masyarakat Meksiko memang besar. Dalam budayanya, keluarga yang disebut la familia itu terdiri dari kakek-nenek, ayah-ibu, paman-bibi, sepupu dan kerabat lainnya. Semuanya tinggal berdekatan. Jadi untuk apa kita pergi keluar kota jika keluarga kita sebelah rumah?

Simpulan
Jadi kenapa orang Indonesia hobi mudik? Karena kita kolektivis. Kenapa yang lainnya tidak? Karena mereka tidak kolektivis[6]. Itu cuma perbedaan budaya.

Bagi Anda yang mudik, selamat mudik. Jaga setiap barang bawaan Anda dan jangan lupa oleh-olehnya. []

Frasa kunci:
  • Kolektivis dan keluarga
  • Serempak hari raya
  • Imlek di Cina
  • Thanksgiving di Amerika dan Kanada
  • La familia di Meksiko
 Referensi:
______________________________________

[*]  Geert Hofstede melakukan pemetaan skala Individualis-Kolektivis atas 53 negara. Semakin tinggi nilainya semakin kolektivis dan sebaliknya semakin rendah semakin individualis. Diurutkan dari yang paling individualis. Bila ada dua angka, berarti bertukaran dengan negara lain. (Dikutip dari Samovar, 2010)
  • (1) Amerika Serikat (negara paling individualis)
  • (4/5) Kanada (bertukaran dengan Belanda)
  • (21) India
  • (22/23) Jepang (bertukaran dengan Argentina)
  • (32) Meksiko
  • Cina sebagai negara tidak disebutkan, tapi Hongkong (37) dan Taiwan (44).
  • (47/48) Indonesia (bertukaran dengan Pakistan)
  • (47/48) Pakistan (bertukaran dengan Indonesia)
[1] Anggota masyarakat itu menyebar melalui dua hal yakni urbanization (urbanisasi) dan marital residence (rumah tangga). Urbanisasi, menurut teori migrasi, disebabkan oleh dua hal: dorongan dan tarikan. Dorongan untuk pergi karena tak puas dengan daerah asalnya, juga tarikan dari daerah baru yang menawarkan keadaan lebih baik. Sedangkan rumah tangga dibentuk pasangan suami istri baru di luar kampung halamannya, ada lima pola.

[2] Semuanya berawal dari konsep masyarakat industri. Dalam masyarakat industri, kepemilikan anggota masyarakat sudah dalam bentuk uang, yang bisa dibawa dan ditukar kapan pun perlu. Karena sifatnya yang praktis, kondisi masyarakat ini memungkinkan munculnya dua hal yakni : marital residence (rumah tangga) dan urbanization (urbanisasi).

[3] Beberapa suku di Indonesia seperti Minangkabau, Makasar dan Bugis misalnya, mengehendaki anak-anaknya pergi setelah besar. 

[4] Thanksgiving bukan perayaan keagamaan, ini murni kultural

[5] Apalagi Thanksgiving sudah dijadikan libur nasional Amerika Serikat sejak Oktober 1789

[6] Satu hal perlu digarisbawahi, individualis tidak berarti tidak sayang keluarga. 

Comments

Popular posts from this blog

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM