Tipikal Lebaran di Indonesia
  -yang Kolektif


    Selamat lebaran bagi kalian yang merayakan. Kalian lebaran di mana kali ini? Lebaran di mana pun kalian, lebaran pada umumnya serupa, dan saya ingin bercerita soal itu. Saya ingin cerita soal tradisi lebaran di Indonesia, serta kenapa hal itu bisa ada. Kita mulai satu per satu ya.


    Kumpul lintasgenerasi, tipikal lebaran di Indonesia (foto: dok. pribadi)


    1. Tipikal SMS Lebaran

    Silakan cek di ponsel kalian, berapa banyak pesan yang masuk saat malam takbir? Lihatlah pola umum yang ada di antara semuanya. Kira-kira seperti ini

    "Candaku" mungkn pernah menyakiti hatimu. "Tawaku" mungkin pernah mengusik damaimu. "Perkataanku" mungkin pernah melukai persaanmu. Andaikan ada '1000' pintu maafmu, sisihkan 1 tuk memaafkan smua kesalahanku.

    Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir batin.
    -Rio & keluarga-
    Hal ini berkaitan dengan konteks komunikasi yang dicetuskan Edward T. Hall. Masyarakat Indonesia punya konteks tinggi atau dalam bahasa Inggris high-context communication. Artinya kita berkomunikasi secara tidak langsung---dengan basa-basi, sehingga saat hendak meminta maaf pun kita perlu berpantun dahulu. Sebaliknya di negara konteks rendah seperti Amerika Serikat, meminta maaf hanya akan berisi minta maaf. Mereka memang lebih suka bicara langsung ke sasaran.

    Poin kedua dari tradisi ini adalah munculnya "keluarga" di penutup pesan, padahal biasanya penerima pesan tidak kenal sama sekali dengan keluarga pengirim pesan. Hal ini menunjukkan pentingnya konsep keluarga dalam budaya kita yang kolektif. Kolektif berarti kelompok lebih penting dari pada individu.

    Di negara individualis seperti Amerika Serikat, tulisan itu takkan hadir karena bagi mereka individu lebih penting dari kelompok. Lebih lanjut tentang hubungan kolektivisme dan keluarga bisa dibaca di Kenapa Kita Mudik?

    2. Tipikal sungkem

    Sungkem adalah meminta maaf pada orang yang lebih tua. Di rumah nenek saya (ya saya muslim), keluarga kami akan berkumpul di ruang tengah selepas eid. Mereka yang di generasi ayah saya duduk berjejer di kursi, sedang generasi saya menyalami mereka mulai dari nenek. Kami duduk bersimpuh di depan mereka. Kalian pun pasti pernah merasakan.

    Tradisi ini menunjukkan hierarki yang kuat di Indonesia. Dalam masyarakat hierarkis, ada batasan yang kuat anatara tua dan muda, dan yang tua mendapat keistimewaan. Sebaliknya di negara egaliter seperti Amerika Serikat, tradisi serupa takkan ada. Muslim Amerika akan meminta maaf tanpa tata cara sungkem.

    Dalam istilah Geert Hofstede, ini disebut power distance.

    3. Tipikal saling berkunjung

    Sedikit siang, akan ada keluarga tetangga yang mampir. Kerapnya, mereka adalah dari generasi ayah, yang akan bersalaman dengan ayah ibu saya dan saudaranya. Pertanyaan yang biasa keluar adalah "Ini siapa? wah sudah besar ya". Selepas itu, giliran keluarga saya yang mampir ke rumah tetangga yang lain, dengan sejumlah pertanyaan serupa. Adakalanya saat kita pamit, biasanya tuan rumah menawarkan, "eh, makan makan dulu," dan biasanya kita tolak secara halus dengan, "ah gak usah ngerepotin".

    Hal ini masih berkaitan pula dengan pentingnya konsep keluarga dalam budaya kolektivis. Poin kedua menunjukkan budaya konteks tinggi.

    Lebih lanjut, pentingnya keluarga dalam budaya kolektivis disebutkan peneliti S.D. Smith dalam “Global Families” (sebagaimana dikutip dalam Samovar, 2010) menyebutkan:
    Berbagai penelitian menunjukkan bahwa “ketergantungan dalam keluarga lebih kuat dalam masyarakat yang kolektif” dibandingkan dengan yang individualis.
    Selamat lebaran bagi yang merayakan. Kenalilah tradisi kalian. Lakukan karena langit yang dijunjung, bukan karena entah kenapa. []

    Frasa kunci:
    • SMS konteks tinggi
    • Sungkem hierarkis
    • Mudik kolektivis
     Referensi:
    • Ember, Carol R dan Melvin Ember. 1977. Cultural Anthropology. New Jersey: Prentice-Hall 
    • Mulyana, Deddy. 2012. Cultures and Communication. Bandung: Rosda
    • Samovar, Larry A. 2010. Komunikasi Lintas Budaya. Jakarta: Salemba Humanika  
    Nenek bercengkerama dengan Reza, cucunya, saudara generasi saya. (foto: dok. pribadi)

        Comments

        Popular posts from this blog

        Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM

        Penjelasan Mengenai "Tuasikal"