Kita Dijajah Kurma


Keluarga saya menganut Islam, dan tiap Ramadan kami berpuasa. Itulah kenapa tiap magrib selama Ramadan meja tamu kami kerap penuh dengan berbagai panganan. Salah satu makanan yang wajib bagi ayah saya adalah kurma.

Saya sudah tidak ingat kapan ayah saya mulai makan kurma. Yang jelas beberapa tahun ke belakang ia tidak bisa berbuka jika tidak dengan kurma. Salah satu alasannya adalah, "Muhammad berbuka dengan kurma, jadi itu sunnah[1]". Maaf tapi anakmu tidak setuju.

Berhubung saya sudah baca buku Cultural Anthropology oleh Carol Ember yakni tentang Relativitas Budaya, saya rasa, merasa berpahala dari makan kurma adalah tidak relevan.

Argumentasi: Menurut teori, budaya bergantung dari geografi setempat. Muhammad lahir di Arab, dan kurma adalah tanaman asli di sana. Itulah kenapa budaya berbuka di Arab selalu dengan kurma. 
Lain cerita bila Muhammad lahir di Indonesia, mungkin tanaman tropis seperti pisang atau kelapa yang kini jadi panganan berbuka di seluruh dunia. Melihat lingkungan tropis Indonesia, maka bagi warga muslim Indonesia, kurma bukanlah tanaman asli, kurma tidaklah harus.

Muhammad memang makan kurma karena yang ada di Arab adalah itu. Tak mungkin dia makan apel soalnya apel asli eropa. Nah, pada dasarnya, apa bedanya dengan kita yang makan kolak yang asli tropis? Bukankah esensi Muhammad adalah makan yang manis, lalu disesuaikan dengan lingkungan kita?

Saya pun mengerti bahwa makan kurma adalah perilaku Muhammad. Namun perlu diingat pula bahwa saat itu Muhammad anjurkan 'kurma' karena umat muslim baru ada di jazirah Arab, maka kurma yang tanaman asli Arab memang cocok. Namun ketika kini umat Islam sudah ada di seluruh dunia dengan kondisi geografi yang beragam pula, perlukah kurma dipaksakan?

Serangan multi-aspek
Hadirnya kurma secara 'paksa' itu merupakan bentuk arabisasi atau pengaraban budaya. Kurma sudah menjajah kita. Lebih jauh lagi, arabisasi ini bukan hanya oleh kurma, tapi juga terjadi di dua aspek lainnya: musik dan pakaian.

Dalam musik, kita mendengar banyak orang, misalnya anak pesantren, yang ramai-ramai menyanyikan lagu timur tengah―atau khas gurun pasir. Dalam pakaian,  kita melihat surban seketika menjadi tren di kalangan bapak-bapak, dan gamis jadi tren di kalangan ibu-ibu. Ingatlah bahwa itu Arab, bukan Islam.

Sampai di sini, jelaslah bahwa Arabisasi masif terjadi setiap Ramadan datang. Hal ini penting kita ketahui supaya tidak salah kaprah dalam beragama.

Kenapa kita salah kaprah?
Sebagaimana agama-agama lainnya, nilai dalam Islam menempel pada budaya di mana agama itu dilahirkan[2]―dalam hal ini Islam pada budaya Arab. Saking identiknya Islam dengan Arab, kita banyak menemukan orang-orang seperti mereka salah kaprah selama Ramadan.

Selain itu, filsuf Karl Marx bilang bahwa indera kita terbatas, makanya kita materialistis. Umat muslim yang mengadopsi Islam akhirnya hanya melihat cangkangnya―orang Arab. Kemampuan indera kita terbatas dipengaruhi pula oleh budaya yang diwariskan selama sekian abad.

Saya tak ingin menyimpulkan, biarlah Anda yang berpikir sendiri. Maka di akhir ini saya hanya ingin mengulang pertanyaan Irshad Manji di bukunya Beriman Tanpa Rasa Takut yakni: "Siapa penjajah kaum muslim sesungguhnya―Amerika atau bangsa Arab?" []

Referensi:
  • Ember, Carol R dan Melvhin Ember. 1977. Cultural Anthropology. New Jersey: Prentice-Hall, Inc
_______________________________

[1] Dalam Islam artinya berpahala jika dilakukan, dan jika tidak pun tak apa-apa.

[2] Contoh dalam agama lain adalah tradisi pohon natal dari cemara, tanaman asli Eropa tengah-utara.