Ngaso di Masjid Yuk!

Senandung asmaul husna mendayu dari dalam masjid. Dengan berseragam lengkap, puluhan anggota TNI nampak berdoa usai shalat dzuhur. Usai shalat, alih-alih lantas pergi, kebanyakan orang memilih duduk bersantai di teras masjid seraya meminum kopi yang disediakan oleh pengurus. Ya, masjid ini memang menyediakan minuman bagi pengunjungnya, gratis pula.

Junudurrahmah dilihat dari Jl Sumbawa

Adalah Junudurrahmah, yang jadi tempat ibadah sekaligus nongkrong warga. Masjid yang berada dalam komplek Kodiklat TNI AD ini memang kerap jadi pilihan warga sekitar untuk beribadah. Terutama pada waktu dzuhur dan ashar.

Beberapa faktor membuat masjid ini selalu ramai. Pertama, lokasi yang superstrategis di pusat kota. Berada di belokan Jl. Aceh dan Jl. Sumbawa, masjid ini ada di tempat yang sangat ramai. Kedua, memiliki parkir yang luas. Sebagai konsekuensi lokasinya di tengah kota, masjid ini menyediakan lapangan parkir yang luas karena kebanyakan pengunjung menggunakan mobil. Ketiga, bersih dari sampah. DKM menyediakan setidaknya dua tempat sampah di ketiga pintu masuk baik untuk sampah makanan dan puntung rokok. Dan keempat, saya yakin adalah karena, fasilitas minum gratis.

Terdapat dispenser yang dilengkapi dengan sebuah lemari plastik. Kopi, susu, teh dan gula jadi isi lemari tersebut. Paket jamuan gratis itu tersedia di tiga pintu masuk masjid yaitu : utara, timur dan selatan. Saya sempat bertanya kenapa tidak empat, ah iya barat itu kan lokasi mimbar. Saya bertanya lagi dari mana uangnya, ah iya pengunjungnya kan pada bermobil.

Pengunjung sedang menyeduh kopi
Di dalam masjid, terdapat dua infokus yang diarahkan ke layar permanen. Keduanya dipakai untuk menampilkan power point Asmaul Husna. Slide itu memakai desain loreng tentara serta beberapa gerak animasi. Seorang anggota TNI memimpin senandung itu. Saking takjubnya, saya sampai lupa foto.

Selain untuk beribadah, masjid ini kerap digunakan sebagai tempat nongkrong. Saat itu, di teras selatan, saya melihat dua pemuda berbincang sambil merokok. Di teras timur yang paling luas dan dipenuhi tiang, saya melihat lima pemuda mengerjakan tugas dan tiga anggota TNI wanita bergosip. Di teras utara, yang juga terdapat jalan langsung menuju gedung Kodiklat, saya melihat anggota TNI saling bercengkrama, tentu saya pun melihat tiga orang tua tidur siang. 

Markinong: Mari kita nongkrong
Remaja berkumpul mengerjakan tugas
Jika Anda merasa minum kopi belum cukup, jangan khawatir, ada empat pedagang yang berjualan di sekitar masjid ini. Kios kecil yang menjual rokok dan minuman kemasan berada tepat di bawah menara. Penjual nasi uduk menjual dagangannya dari dalam mobil yang diparkir di depan menara. Selain itu, penjual chuanki akan melayani di area parkir motor dan di trotoar Jl. Sumbawa ada penjual baso tahu. Satu pesan saya, jangan cari penjual kopi.

Saat saya berkunjung, masjid ini sedang melakukan renovasi untuk lantai dua dan menara masjid. Di teras timur ada daftar donatur renovasi. Salah satu penyumbang memberikan dana 25 juta rupiah dan masih banyak yang lainnya. Setidaknya, itu menjamin bahwa kopi di masjid ini masih akan ada hingga lima tahun mendatang. *Hehe

TIPS

Kopi yang disediakan bukanlah kopi kemasan. Anda harus pintar meracik kopi dan gulanya. Saat saya pertama, secara malu-malu, menyeduh kopi, saya memakai 4 sendok kopi dan 2 sendok gula dan hasilnya asam pahit. Saya lantas menambahkan 4 sendok gula dan air lagi dan rasanya tetap lebih baik meminum kopi kemasan saja. Cobalah satu sendok kopi tambah dua sendok gula.

BIAYA

Biaya parkir motor saya 1000 rupiah. Anda bisa jalan kaki agar benar-benar gratis.

Comments

Popular posts from this blog

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM