Merasa Tidak Cocok Budaya

“... Namun, dari tahun ke tahun saya telah menjumpai begitu banyak orang seperti Jared yang tampaknya merasa lebih kerasan, lebih bahagia, tinggal di negara yang bukan merupakan tempat kelahirannya...

... Biasanya, para pengungsi hedonis memiliki epifani, saat yang sangat jelas di mana mereka menyadari, tanpa keraguan, bahwa mereka terlahir di negara yang salah.” [1]





Deg.

Mataku nanar.


Kutatapi kata-kata itu berulang kali, berusaha menolak pengertian yang datang, diriku mengorek makna yang lain. Tapi tak ada. Makna itu jelas sudah, mengetuk kepalaku seolah berkata "Halo ke mana saja dirimu?"

Momen itu begitu hampa. Sekitar lima detik hingga kusadar kembali. Maka kututup novel itu, menyelipkan jari tengah di halaman tadi sebagai penanda. Diriku menghela nafas dan memberondong diriku dengan pertanyaan: “Apa aku lahir di negara yang salah?”

Kalimat tadi sejenak menyeruak. Memberikanku panduan yang membuatku mampu menerjemahkan pengalamanku selama ini. Kenapa diriku dibilang belaga tampil, kenapa diriku dibilang penyendiri, kenapa diriku dibilang tidak sopan. Kenapa pula diriku dibilang berbeda, dan diriku nyaman dengan itu semua. Betul, diriku tidak cocok dengan budaya tempatku dilahirkan.

Di tempatku dilahirkan, ayah dan ibu adalah panutan, yang berbeda digunjingkan, hubungan keluarga selalu jadi kekuatan, orang yang lebih tua kerap diutamakan, pemuka jabatan yang salah tidak disalahkan, ada masalah tidak disebutkan, akhirnya menyebar fitnah tak keruan, dengan sebar senyum yang sekadar polesan---dan diriku tidak bisa demikian.

Diriku ingin tinggal di mana ayah dan ibu menjadi kawan, yang berbeda dibanggakan, kemampuanlah yang selalu jadi kekuatan, diri siapapun diutamakan, siapa pun kalau salah bisa disalahkan, ada masalah disebutkan, hidup dalam lingkup ketulusan, dengan senyum yang keluar hanya jika diperlukan---diriku berharap demikian.

Dua puluh tahun sudah diriku hidup dalam kolektivitas, baru kini diriku sadar diriku menjunjung individualitas. Diriku merasa tidak cocok budaya. Mungkin diriku terlalu banyak mengonsumsi produk Barat seperti film dan buku atau sejenisnya. Mungkin diriku pernah diperlakukan secara kejam oleh budaya sendiri hingga tumbuh membencinya. Apa budayaku yang salah, ataukah diriku? Entahlah. Kami memang bukan jodoh.

Diriku gatal di sini.
Ingin cepat-cepat tinggal di Eropa.
______________________________

[1] Dalam novel perjalanan Geography of Bliss oleh Eric Weiner. Hal 281. Lihat resensinya di sini.

Comments

  1. "Diriku ingin tinggal di mana ingin ayah dan ibu menjadi kawan, yang berbeda dibanggakan, kemampuanlah yang selalu jadi kekuatan, diri siapapun diutamakan, siapa pun kalau salah bisa disalahkan, ada masalah disebutkan, hidup dalam lingkup ketulusan.... "
    Like this..!!
    Keep Writing!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaa.. makasih makasih.
      Apa kamu juga suka dgn nilai-nilai kaya gitu Vis?

      Delete
  2. Bukan tidak jodoh, tapi terlalu merebaknya budaya luar yang menjajah dirisendiri sehingga tidak sampai hati mencintai bahkan mengenal budaya sendiri, sayang sekali :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaa.. justru karena saya kenal makanya saya lebih memilih budaya lain. Emg menurut mbak, ada yang salah dengan pola budaya Barat? :D

      Delete
  3. "Diriku gatal di sini.
    Ingin cepat-cepat tinggal di Eropa."

    Ga jadi Amerika? Haha...
    Sampai ketemu di Eropa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiriki itu negara tapir ria haha..

      Oh ya, kamu mau di negara apa?

      Delete
  4. Hahaha... Kan bagus di sana tapir-tapir pada dibebasin... Ga dikerangkeng atau dikandangin. :p

    Perancis, tepatnya di Annecy. Hahaha... Kalau nggak Itali biar nanti belajar ngomong nggak cuma pakai mulut tapi juga pakai tangan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapir-tapir itu nanti dibakar di neraka ria, jadi tapir bakar, ga enak.

      Ouh di Prancis toh, Prancis emang oke sih, ehh tapi apa kamu ga takut sama sekularisme Prancis? mereka galak sama simbol agama loh..

      Nah itu dia ria, pengen juga sih tinggal di Itali, pengen tetanggaan sama Juliet :p

      Delete
  5. Dibakarnya pake arang apa dipanggang doang pake pemanggang portable gitu? Waduh kalau pake arang aku ga berani. Alergi arang.... :D

    Ah, ga takut. Selama masih boleh beragama. Daripada simbol agama jadi alat propaganda yang murah? *ups

    Pasti mau megang patungnya Juliet tiap hari. :D
    Aku mah mau bantuin Juliet balesin surat-surat. #korbanfilm

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin lebih enak kalo dioles mentega, atau pake bumbu BBQ

      Nah, itu dia. Setuju deh..

      Hahaa.. parah dah. Mending makan spaghetti sambil minum cappuccino lalu naik Vespa, biar 'feel so Italian' :D

      Delete

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran

Popular posts from this blog

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM