Seminar 'East & West':
Mr. Masaki Tani


Mr. Masaki Tani, Direktur Informasi dan Budaya Kedubes Jepang untuk Indonesia
(sumber: binus.ac.id)

Selasa (17/7) lalu saya hadiri sebuah seminar internasional di Unisba, temanya Socio-Cultural Communication Between East and West (SCCEW). Seminarnya seru sekali, dengan 6 pembicara yang keren sekali. Ada dua akademisi, ada pula empat perwakilan duta besar selaku praktisi.

Di tulisan sini saya akan bercerita tentang perwakilan Kedubes Jepang Mr. Masaki Tani, yang jadi salah satu pembicara. Dia adalah Direktur Informasi dan Budaya Kedubes Jepang untuk Indonesia. Dia masih muda, dengan badan tegap dan tinggi. Hari itu dia memakai batik berwarna hitam dengan ornamen merah dan putih serta hanya membawa beberapa lembar kertas, kesan yang amat bersahaja.

Dia jadi pembicara kedua di sesi pertama. Senyumnya ramah sekali. Ia memulai pidatonya dengan pengantar bahasa Inggris dialek Jepang. Selepas itu, cepat-cepat Mr. Tani bilang, “I want to deliver my speech in bahasa Indonesia”. Peserta hening. Dia memulai, “Selamat siang. Pada kesempatan ini saya akan....”. Belum selesai kalimat itu ia katakan, ia sudah mendapat tepuk tangan yang sangat meriah dari seluruh peserta. Bahasa Indonesianya memang terkesan kurang kosakata dan sangat beraksen Jepang, namun perjuangannya untuk menghargai budaya Indonesia amat harus diapresiasi. すごい Mr. Tani-san!

Judul makalah yang akan Mr. Tani bawakan sebenarnya berjudul Living in Harmony: the Effort of Japanese Society in Establishing Social-Cultural Relationship with Indonesian Society, namun di kesempatan ini ia lebih bercerita bagaimana Jepang dan Indonesia sama dalam banyak hal. Ini dia yang dia sampaikan:

Menurutnya, Jepang dan Indonesia sama akan dua hal: 1. Budaya menyapa, dan 2. Nasi. Dia bercerita, “Di Indonesia orang suka bertanya pada orang yang lewat, ‘mau kemana?’”. Menurut orang barat hal itu mengganggu, namun tidak bagi orang Jepang. Di Jepang juga, katanya, hal serupa biasa terjadi. Pertanyaannya bukan sekedar ‘kemana’, malah kadang menanyakan kabar keluarga juga.

Tentang nasi, ia bercerita bahwa rakyat Jepang juga amat menghargai nasi. “Saya melihat di Indonesia, mereka memotong padi secara pelan karena percaya akan dewi padi, Jepang juga sama,” ceritanya sedikit terbata-bata.

Mr. Tani melanjutkan dengan program pemerintah. Dia bercerita, pemerintah Jepang dan Indonesia melakukan hubungan yang akrab (dia menyebut ‘akrab’ dengan dialek Jepang jadi terdengar seperti ‘akurabu’). Banyak orang Indonesia yang kuliah di Jepang dan kembali ke Indonesia, perkumpulan mereka bernama Persada dan PPIJ.

Dia melanjutkan, di Indonesia juga banyak diadakan festival budaya Jepang seperti Japan Matsuri di Jakarta dan Bandung. Pemerintah Jepang atau pemerintah Indonesia tak banyak ikut campur, katanya, tapi itu dari masyarakat Jepang dan masyarakat Indonesia. Bukan sekedar hubungan di tingkat pemerintah, tapi juga di tingkat masyarakat. Hubungan itulah, ungkapnya, cara untuk hidup dalam harmoni. []

Comments

Popular posts from this blog

Penjelasan Mengenai "Tuasikal"

Surat Terbuka untuk Muslimah Bercadar dari Muslim Pembela HAM