Relativitas Budaya


Pernahkah teman-teman berpikir kenapa budaya begitu beragam? Kenapa wanita Arab mengenakan cadar sedangkan wanita Korea tidak? Kenapa pula bangsawan Inggris punya pakaian berlapis sedangkan bangsawan Afrika punya pakaian gombrang? Dalam hal lain, lantas kenapa perapian muncul di Eropa dan bukannya Indonesia? Kenapa mereka berbeda? Inilah yang disebut relativitas budaya
Penari India (sumber: en.wikipedia.org)

Budaya adalah bentuk adaptasi sekelompok manusia terhadap lingkungannya. Bagaimana budaya yang dibentuk amat dipengaruhi oleh kondisi geografi di mana masyarakat itu tinggal. Bagi bangsa Arab yang tinggal di padang pasir yang berdebu, cadar adalah solusi untuk melindungi hidung. Bagi bangsa Afrika yang tinggal di daerah sahara yang panas, pakaian gombrang adalah solusi. Begitu pun bagi bangsa Eropa yang mengalami musim dingin, perapian adalah solusi untuk tetap hangat. Sedangkan bagi bangsa Indonesia yang tinggal di daerah tropis yang hangat, perapian tidaklah diperlukan, bukan?

Karena cadar, pakaian gombrang dan perapian adalah solusi atas lingkungan sekitar, maka sifatnya disebut adaptif (adaptive). Produk budaya yang adaptif menjamin masyarakatnya dapat hidup di tempatnya lebih lama. Namun ingat, ada pula hasil budaya yang malah berefek sebaliknya, disebut maladaptif (maladaptive). Contohnya disebutkan Carol Ember dalam bukunya Cultural Anthropology (1977) yakni:

Certain tribes in New Guinea view women as essentially unclean and dangerous individuals with whom physical contact should be as limited as possible. Suppose one such tribe decided to adopt homosexuality as its customary sexual pattern. Clearly, we would not expect such a society to survive for long. (Beberapa suku di Papua Nugini melihat perempuan secara esensi tidak bersih dan berbahaya sehingga kontak fisik harus dibatasi sebisa mungkin. Andaikata suku ini memilih mengadopsi homoseksualitas sebagai pola seksualnya. Jelaslah, kita tak berharap banyak suku ini bertahan lama) (Ember, 1977: 30)

Selanjutnya Ember menyebutkan bahwa untuk memahami kebiasaan dan ide dalam satu budaya haruslah dipahami dari konteks masalah dan peluang yang dimiliki masyarakat tersebut. Sikap inilah yang disebutnya sebagai relativitas budaya.

Menurut Larry A Samovar dalam bukunya Komunikasi Lintas Budaya, selain oleh geografi, budaya dibentuk pula oleh sejarah yang terjadi. Sejarah ini misalnya hadirnya sosok Socrates dalam bangsa Yunani atau sosok Konghucu (Inggris: Confusius) dalam bangsa Cina. Mereka turut andil dalam mebentuk tatanan sosial di masyarakatnya. Selain itu, bisa pula oleh peristiwa besar seperti revolusi Prancis di Prancis atau restorasi Meiji di Jepang. Dua peristiwa itu membentuk (bahkan merubah) tatanan sosial masyarakatnya saat itu.

Nah, sekarang setelah mengetahui dasar relativitas budaya, tentu kita bisa menjelaskan kenapa dunia kita sekarang seperti ini. Misalkan masalah geografi, yakni kenapa kurma menjadi makanan yang diminati umat Muslim seluruh dunia kala berbuka puasa? Itu karena nabi mereka Muhammad lahir di Arab, dan kurma adalah tanaman asli di sana. Lain cerita bila Muhammad lahir di Indonesia, bisa jadi pisang atau ubi jadi takjil di seluruh dunia.

Soal sejarah, kenapa jas jadi pakaian resmi di mayoritas masyarakat seluruh dunia? Itu karena jas yang asli Eropa diperkenalkan ke seluruh dunia oleh bangsa Eropa yang mengalami pencerahan (Inggris: age of enlightment, Jerman: aufklarung). Seperti kita ketahui, Colombus menjelajah dunia karena disemangati oleh era pencerahan ini. Cerita akan beda manakala bangsa yang mengalami pencerahan adalah bangsa Asia Timur, misalnya Jepang. Bisa jadi, kimono-lah yang jadi pakaian formal di mayoritas bangsa dunia saat ini. Itu terjamin secara teori.

Baiklah, saatnya saya pamit.
Tulisan ini saya tutup dengan satu pertanyaan untuk teman-teman pikirkan:

Lantas kenapa film India dipenuhi adegan menari massal?
  1. Secara geografi, tanah mereka empuk seperti matras hingga cocok digunakan menari
  2. Secara sejarah, pernah ada ahli tari yang menyebabkan revolusi dunia tari di India
  3. Semua benar

Jawaban: Tak perlu memilih jawaban saya yang absurd. []

Kata kunci:
  • Adaptasi
  • Masalah dan peluang
  • Geografi
  • Sejarah
______________________________________________

Referensi:
  • Ember, Carol R dan Melvin Ember. 1977. Cultural Anthropology. New Jersey: Prentice-Hall
  • Samovar, Larry A. 2010. Komunikasi Lintas Budaya. Jakarta: Salemba Humanika

Comments

  1. Tulisan yang menarik, Ndong :)
    Semangat terus hey Pemerhati Komunikasi Lintas Budaya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih teteh :))
      Pastinya selalu semangat dong ;D

      Delete

Post a Comment

Mari berbagi pemikiran